PENGEMBANGAN EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA MADRASAH

madrasah

Dr. Ahmad Subagyo

Madrasah adalah sebuah institusi pendidikan keagamaan tertua yang tumbuh dan berkembang secara swadaya dalam masyarakat muslim Indonesia. Madarasah pada awal perkembangannya di Indonesia tumbuh di – Pesantren. Pesantren merupakan inititusi pendidikan khas Indonesia (indigenous) yang dapat dilacak sejak awal kehadiran dan da’wah Islam di Indonesia.
Madrasah juga merupakan “institusi budaya” yang lahir atas prakarsa dan inisiatif tokoh masyarakat yang bersifat otonom dan memiliki potensi strategis di tengah kehidupan sosial masyarakat. Walaupun kebanyakan Madrasah memposisikan hanya sebagai institusi pendidikan dan keagamaan, namun mulai 1970-an beberapa Madrasah telah melakukan reposisi dalam mensikapi berbagai persoalan sosial masyarakat, seperti ekonomi, sosial dan budaya, sosial dan politik.
Madrasah pada awalnya memiliki kurikulum yang khas yang dikembangkan oleh masyarakat intelektual santri (anak didik) yang dikomandani pada kyai dan ulama yang mendasarkan diri pada berbagai rujukan kitab kuning dan tradisi pembelajaran dari Timur Tengah. Namun di kahir-akhir ini madrasah telah berintegrasi dengan sekolah umum yang memberikan pelajaran secara komprehensif.
Dibanding dengan lembaga pendidikan parsial yang ditawarkan sistem pendidikan sekolah umum di Indonesia saat ini. Madrasah mempunyai kultur yang unik. Karena keunikannya Madrasah digolongkan kedalam subkultur tersendiri dalam masyarakat Indonesia. Di samping Madrasah memiliki 3 pilar utama sebagai sebuah magnet yang potensial yaitu Kyai-Ulama’, Santri (anak didik) dan Pendidikan yang integral. Populasi yang demikian besar juga menjadikan Madrasah patut diperhitungkan oleh pemerintah untuk dirangkul sebagai mitra pembangunan. Menurut data Kementerian Agama pada tahun 2004 jumlah Madrasah di Indonesia sudah mencapai angka 13.000 Madrasah, jumlah ini pada ggilirannya apabila dikelola dengan baik dan profesional akan dapat menghasilkan nilai ekonomi, sosial dan budayas yang sangat besar.
Madrasah dengan berbagai harapan dan predikat yang dilekatkan padanya, sesungguhnya berujung pada tiga fungsi utama, yaitu: Pertama, sebagai pusat pengkaderan pemikir-pemikir agama (Center of Excellence). Kedua, sebagai lembaga yang mencetak sumber daya manusia (Human Resource). Ketiga, sebagai lembaga yang mempunyai kekuatan melakukan pemberdayaan pada masyarakat (Agent of Development). Ponpes juga dipahami sebagai bagian yang terlibat dalam proses perubahan sosial (Social Change) di tengah perubahan yang terjadi.
Untuk mewujudkan harapan tersebut, Madrasah harus senantiasa berbenah dan membangun kemandirian ekonomi, sosial dan budaya yang unggul. Di samping terus mengembangkan kurikulum yang ideal dan proporsional sebagai bagian strategi menghadapi persaingan yang lebih kompleks dan ketat. Karena apabila ditinjau dari segi geodemografis, Madrasah merupakan institusi yang menghasilkan suatu produk yaitu alumni dalam jumlah yang sangat besar, bisa ribuan bahkan puluhan ribu alumni setiap tahunnya. Para alumni itu disadari atau tidak, akan masuk dalam “pasar” di mana konsumennya juga mengalami dinamika perkembangan yang menuntut kualifikasi tertentu.
Dalam dinamika tersebut, Madrasah dihadapkan pada realitas bahwa konsumen menjadi penentu. Ini merupakan tantangan yang tidak dapat dihindarkan oleh setiap lembaga pendidikan termasuk Madrasah. Karena itu, Madrasah harus mengalami pemberdayaan dan pembangunan berkelanjutan untuk menjawab tantangan tersebut

A. MODAL YANG DIMILIKI MADRASAH

Madrasah memiliki 3 pilar utama sebagai sebuah magnet yang potensial yaitu kyai (ulama’), santri (anak didik) dan pendidikan yang integral. Pemakaian istilah kyai sepertinya merujuk pada kebiasaan daerah. Pemimpin Madrasah di Jawa Timur dan Jawa Tengah disebut kyai, sedangkan di Jawa Barat (baca: Sunda) bergelar ajengan. Secara nasional term kyai lebih dikenal daripada ajengan. Paralel dengan term tersebut adalah ulama’. Kata ulama’ merupakan istilah yang diambil dari dua sumber skriptural, yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah. Kyai dan ulama’ berbeda asal-usul bahasanya namun memiliki esensi dan kualitas yang relatif sama. Keduanya memiliki karakter yang fundamental yang memiliki kualitas dalam iman, takwa dan ilmu agama Islam sebagai ciri khas.
Kyai (ulama’) adalah figur dan elemen paling esensial dalam Madrasah. Kyai adalah orang yang memimpin Madrasah karena memiliki kualitas iman, takwa dan ilmu pengetahuan keagamaan yang luas dan mendalam. Kyai di samping memberikan pelajaran agama dan menjadi pemimpin spiritual para santri (anak didik)nya, tidak jarang juga memiliki kemampuan memecahkan problem sosio-psikis-kultural-politik-religius masyarakat. Andai dalam lingkungan Ponpes tersebut terdapat beberapa kyai-ulama, maka keberadaan mereka haruslah tetap mengikuti ritme kyai sepuh di lingkungan Madrasah tersebut atau berdasarkan konsensus dalam Madrasah tersebut yang disepakati.
Keberhasilan kyai dalam kepemimpinannya akan menjadi magnet yang luar biasa bagi masyarakat. Masyarakat akan melihat sejauh mana keberhasilan yang telah dicapai terutama dalam mencetak santri (anak didik) yang memiliki tingkat kesalehan baik agama maupun kesalehan sosial, di samping alumni yang memiliki keterampilan yang cukup. Maka tidak heran terdapat adegium yang mengatakan bahwa promosi yang paling berhasil yang bisa dilakukan oleh lembaga Madrasah adalah penilaian masyarakat sendiri tentang kiprah Madrasah tersebut di masyarakatnya.
Keberhasilan kepemimpinan kyai tersebut tentunya tidak dapat berjalan sendiri, perlu adanya perangkat yang menopangnya, disamping tersedianya sumberdaya manusia para pembantu kyai (baca: ustadz/ustadzah dan karyawan ) yang profesional dan loyal. Juga didukung oleh sarana penunjang lain seperti penguatan kelembagaan. Kurikulum yang tepat dan dapat menjawab tantangan zaman., serta infrastruktur yang memadai sebagai modal fisik yang akan dikembangkan menjadi basis ekonomi, sosial dan budaya dalam rangka kemandirian ekonomi, sosial dan budaya Madrasah.
Potensi ekonomi, sosial dan budaya kedua yang melekat pada Madrasah adalah santri (anak didik). Analisis potensi diri ini harus dipahami, bahwa para santri (anak didik) tersebut sering mempunyai potensi/bakat bawaan, seperti kemampuan membaca al-Qur’an, kaligrafi, pertukangan, dan sebagainya. Bakat bawaan ini sudah seharusnya selalu dipupuk dan dikembangkan. Karena itulah, ada baiknya bila dalam Madrasah diterapkan penelusuran potensi/bakat dan minat santri (anak didik), kemudian dibina dan dilatih
Dengan demikian, dalam Madrasah perlu dikembangkan Wadah Apresiasi Potensi Santri (anak didik) (WAPOSI), wadah semisal ini mungkin sudah ada tinggal bagaimana mengatur supaya produktif. Perlu juga ditambahkan, penggalian potensi diri santri (anak didik)-murid ini merambah pada potensi-potensi lain, semisal politisi, advokasi, jurnalistik, dan seterusnya. Karenanya, untuk ke depan wajah Madrasah menjadi semakin kaya ragam dan warna.
Sedangkan dalam bidang pendidikan. Potensi ekonomi, sosial dan budaya dari sektor ini tentu menjadi semakin sempurna bila digabung dengan potensi diri santri (anak didik) seperti dijelaskan di atas. Persoalannya tinggal bagaimana semua potensi ini dikelola secara profesional, tetapi tetap menampilkan karakteristik Madrasah. Inilah salah satu tantangan Madrasah dan lembaga pendidikan yang ada dalamnya. Karena itulah diperlukan keberanian manajerial dari para pengasuh untuk mewarnai manajemen Madrasah secara lebih profesional dan modern, tetapi khas Madrasah. Dalam konteks ini, keharismatikan seorang kyai, tidak hanya dilihat dari aspek agama, tetapi juga aspek yang lain, seperti wawasan dan manajerial.
Apabila ketiga pilar utama ini terpenuhi, Madrasah telah memenuhi tiga fungsi utama, yaitu Pertama, sebagai pusat pengkaderan pemikir-pemikir agama (center of excellence). Kedua, sebagai lembaga yang mencetak sumber daya manusia (human resource). Ketiga, sebagai lembaga yang melakukan pemberdayaan pada masyarakat (agent of development)

Di samping itu, kemampuan Madrasah dalam pengembangan ekonomi, sosial dan budaya juga perlu memperhatikan beberapa modal berikut, diantaranya: 1). Modal fisik (physical capital) dengan indikator tersedianya a. Sarana produksi., b. sarana pendidikan., c. sarana kesehatan., d. Sarana ekonomi, sosial dan budaya., e. Sarana komunikasi, dan f. Sarana transportasi. 2). Modal manusia (human capital) yang meliputi: a.Tingkat pendidikan., b. Tingkat kesehatan, dan c. Kemampuan berinteraksi antar sesama dan menyelesaikan tugas. Dan 3). Modal sosial (social capital) yang meliputi: a. Tingkat kerjasama antar sesama., b. Tingkat kepercayaan antar sesama., c. Tingkat kepatuhan terhadap norma., d. Tingkat kepedulian antar sesama., dan e. Tingkat keterlibatan dalam aktivitas organisasi sosial

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*