Dimana Sekolah yang Sebenarnya?

foto-kampus-21

Oleh Dr. Ahmad Subagyo

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu pengetahuan dan bertaqwa diantaramu beberapa derajat” (al-Mujadalah:11). Membangun peradaban masyarakat muslim yang beriman-bertaqwa dan berilmu pengetahuan membutuhkan upaya ikhtiar lahir dan batin. Sepanjang sejarah kejayaan umat Islam selalu diiringi pembangunan sarana ibadah berupa “Masjid” sebagai tempat ibadah dan simbol ketaqwaan  dan “Madrasah” sebagai tempat menuntut ilmu sebagai simbol ilmu pengetahuan.

“Islam itu tinggi dan tidak ada yang melebihinya”, ketinggian Islam sebagai ad-dien harus dapat dibuktikan oleh umatnya. Berbagai kelemahan dan kekalahan umat Islam dalam berbagai kancah persaingan di alam modern ini bukanlah kelemahan “Islam sebagai ad-dien” tapi lebih kepada kelemahan umatnya yang belum mampu mengejawantahkan dan  membumikan kemuliaan “Islam” dalam kehidupan sehari-hari karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman terhadap “al-Islam” itu sendiri.

“Bacalah!, dengan menyebut nama Tuhan-mu yang menciptakan” (QS. Al-alaq:1). Ayat pertama dalam al-Qur’an al-karim ini menunjukkan kepada umat Islam bahwa kewajiban belajar adalah yang pertama dan utama, baik belajar ilmu agama maupun ilmu pengetahuan. Seorang muslim dapat beribadah dengan benar jika disertai dengan ilmu dan ilmu dapat diperoleh jika belajar, demikian pula dalam mengarungi kehidupan dunia untuk mencari rezeki juga dibutuhkan pengetahuan untuk mendapatkan secara baik dan halal  (halalan wa al-thoyyiban).

“Tuntulah ilmu dari ayunan sampai masuk ke liang lahat” ketika ada kewajiban untuk menuntut ilmu, maka menjadi kewajiban umat Islam untuk menyediakan sarana prasarananya. Madrasah mulai didirikan dan berkembang pada abad ke-5 H atau abad ke-10. Perkembangan madrasah meluas seiring dengan perkembangan umat Islam yang makin luas ke berbagai penjuru dunia. Madrasah mencapai puncaknya di masa dinasti fatimiyah yang berkuasa di Andalusia dan Cordoba (Spanyol-saat ini). Pada masa itu Islam menguasai peradaban dunia setelah menguasai berbagai aspek kehidupan, terutama ilmu pengetahuan.

Untuk memperbaiki kondisi perekonomian, kehidupan sosial masyarakat dan kebudayaannya, maka landasan yang paling fundamental adalah memperbaiki dasar akidah dan pengetahuannya melalui proses pendidikan di Madrasah.  Posisi penting dan peran strategis “madrasah” sebagai agent of social change menjadi perhatian dan kewajiban kita semua untuk memperkuat dan mengokohkan keberadaannya.

Ketika bicara madrasah dewasa ini, langsung konteks maknanya menyempit ke domain Kemenag, sementara bicara sekolah menjadi domain Mendikbud. Mendikotomi pendidikan dalam dua domain yang berbeda berujung pada keterpecahbelahan memandang dunia dan akhirat. Seakan-akan bicara madrasah adalah persoalan agama, sementara bicara sekolah adalah masalah dunia. Bahkan membelah ke persoalan politik, terwacanakan ke publik jika “Kemenag” bagian ormas Islam ini dan “Kemendikbud” wilayah kekuasaan ormas itu, sampai ke Menteri-nya juga begitu.

Saat kita bicara Kurikulum 2013 yang mengintegrasikan seluruh tema kehidupan dalam satu topik pelajaran, muncul pertanyaan dalam benak kita : apakah kita mampu melakukannya sementara induk yang menjadi biang “pemikiran” kita juga tidak menyatu?

Bahasa verbal lebih mudah dipahami dibandingkan bahasa non-verbal. Membaca  rambu-rambu lalu lintas sambil mengemudi di jalan lebih mudah dibandingkan memaknai ayat-ayat suci di ruangan kelas yang harus dihafal, lalu setelah keluar kelas tidak tahu bagaimana mempraktekkannya. Maka jangan heran, jika warga negara-negara di wilayah scandinavia (induk kurikulum 2013) paling kecil tingkat korupsinya, sementara negara-negara mayoritas muslim menduduki rangking atas tingkat korupsinya.

Internalisasi ajaran agama hanya sebatas di ruang kelas, sementara lingkungan keluarga dan masyarakat menjadi dunia lain dalam kehidupan anak-anak kita. Mereka terbelah pola pikir dan keyakinannya. Ketika guru di sekolah mengajarkan “kebersihan adalah sebagian dari iman”, saat anak-anak kembali ke rumah sampah berceceran di sekeliling rumah dan lebih tragis lagi belum sampai di rumah, saat di jemput sang ayah tiba-tiba dilihatnya ayahnya membuang putung rokok di lempar ke jalan dari dalam mobilnya. Hipokrit, dualisme, inkonsisten, munafik, dan ketiadaan contoh keteladanan akan memporak-porandakan bangunan yang sedang kita coba dirikan dalam kurikulum 2013 ini.

Sekarang kembali kepada diri kita semua, perubahan kurikulum memang diprediksikan akan membawa kemajuan dalam bidang pendidikan kita, pendidikan akan mendorong kesejahteraan masyarakatnya, namun kita perlu ingat itu tidak lebih dari 20%, karena sisanya ada di keluarga dan masyarakat kita yang menentukan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*